“Barang siapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Ibnu Majah & Abu Dawud)                 Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya. ( Ali bin Abi Thalib )

Friday, April 12, 2019

INTEGRASI ISO 9001:2015 DAN STANDAR AKREDITASI PERGURUAN TINGGI

SALAM QHSE
Sebuah keberuntungan pada momen ini bisa diberi kesempatan untuk kembali mengisi konten yang ada di Blog ini, yang mudah - mudahan bisa memberikan manfaat dan keberkahan bagi para pembacanya. Kali ini, penulis ingin menuliskan keterkaitan antara Standar Sistem Manajemen Mutu (ISO 9001:2015 dengan Standar Akreditasi Perguruan Tinggi).

Kenapa harus dikaitkan dengan Standar Akreditasi Perguruan Tinggi ?
Tujuan dari proses akreditasi adalah untuk menilai kesesuaian hasil dari proses pengelolaan yang dilakukan oleh institusi perguruan tinggi terhadap standar yang telah ditetapkan oleh BAN-PT.
Standar Akreditasi Perguruan TInggi merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menjamin mutu pengelolaan pendidikan tinggi. Saat ini institusi yang ditunjuk untuk menyelenggarakan akreditasi bagi institusi pendidikan tinggi adalah Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Standar yang ditetapkan oleh BAN-PT pada instrumentasi akreditasi institusi perguruan tinggi tahun 2011 ada 7 yaitu:
  1. Standar 1. Visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian
  2. Standar 2. Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu
  3. Standar 3. Mahasiswa dan lulusan
  4. Standar 4. Sumber daya manusia
  5. Standar 5. Kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik
  6. Standar 6. Pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi
  7. Standar 7. Penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama


Manfaat integrasi penerapan ISO 9001:2015 dengan Standar Akreditasi Perguruan Tinggi
Penerapan Sistem Manajemen Mutu (ISO 9001:2015) mampu menjadi kerangka acuan sistem penjaminan mutu internal untuk memastikan bahwa proses pengelolaan sesuai dengan visi dan misi dan peningkatan mutu dilakukan secara berkelanjutan.
Institusi perguruan tinggi yang mengintegrasikan ISO 9001:2015 dengan Standar Akreditasi BAN-PT dapat mengarahkan pengelolaan bukan hanya pada pemenuhan standar tetapi juga untuk peningkatan mutu yang berkelanjutan untuk memenuhi tuntutan akan mutu pendidikan yang terus berkembang.

Integrasi ISO 9001:2015 dengan standar akreditasi perguruan tinggi dibuat dalam metode pemetaan persyaratan standar akreditasi institusi perguruan tinggi dan persyaratan standar ISO 9001:2015.







Sunday, July 15, 2018

6 LANGKAH IDENTIFIKASI ASPEK DAN DAMPAK LINGKUNGAN (ISO 14001:2015)

Salam QHSE !!


Pada kesempatan kali ini, penulis akan mencoba menguraikan materi tentang Aspek dan Dampak Lingkungan. Berkaitan dengan ISO 14001:2015 (Sistem Manajemen Lingkungan), aspek lingkungan merupakan salah satu persyaratan yang ada didalam klausul 6 (Planning).

Sebagai bagian dari perencanaan, aktivitas identifikasi dan evaluasi aspek lingkungan merupakan dasar dari sistem manajemen lingkungan sehingga ketersediaan informasi terdokumentasi dan pemahamannya merupakan satu kaeharusan. Hasil dari identifikasi aspek/dampak lingkungan merupakan dasar organisasi untuk membuat program-program manajemen lingkungan yang relevan. Aspek lingkungan yang signifikan dapat menghasilkan risiko dan peluang yang terkait dengan dampak lingkungan yang merugikan (ancaman) atau dampak lingkungan yang menguntungkan (peluang).

Untuk lebih jelasnya berikut definisi aspek dan dampak lingkungan menurut ISO 14001:2015, diantaranya :

  • Aspek Lingkungan adalah elemen dari aktifitas organisasi atau produk atau jasa yang berinteraksi atau dapat berinteraksi dengan lingkungan.
  • Dampak Lingkungan adalah perubahan lingkungan, apakah merugikan atau menguntungkan, seluruhnya atau sebagian yang dihasilkan dari aspek lingkungan organisasi

Sebagai contoh, penggunaan mesin pendingin (AC, Kulkas, Freezer, dsb) didalam kantor yang memiliki aspek (dapat berinteraksi dengan lingkungan ) seperti penggunaan freon atau potensi kebocoran freon. Dampak yang dapat timbul dari aspek tersebut adalah penurunan sumber daya alam atau penipisan lapisan ozon

Contoh lain, Aktifitas dalam pengoperasian IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah) yang memiliki aspek lingkungan seperti penambahan bahan kimia, ceceran bahan kimia, pembuangan limbah cair hasil treatment ke aliran sungai, dsb. Dampak yang bisa ditimbulkan dari aktivitas tersebut digolongkan sebagai aspek lingkungan yang menimbulkan dampak pencemaran air. Terlihat juga di sini bahwa beberapa aspek dapat menyebabkan satu atau beberapa jenis dampak lingkungan, baik pencemaran udara atau pencemaran air.

Secara umum kita bisa lakukan identifikasi aspek dan dampak lingkungan melalui 6 langkah berikut :

Langkah ke 1

Melakukan identifikasi aspek lingkungan yang terkait dengan seluruh aktivitas kita, dengan mempertimbangkan :

  • Kondisi (Normal, Abnormal & Emergency) 
  • Frekuensi Kegiatan (secara berkala atau tidak )
  • Pengembangan ( apabila ada aktivitas baru, pengembangan proses, modifikasi produk, dsb)

Langkah ke 2

Mempertimbangkan kriteria yang telah ditetapkan dalam mengidentifikasi aspek lingkungan seperti dibawah ini:

  • Emisi ke Udara.
  • Buangan ke air.
  • Limbah
  • Kontaminasi ke tanah.
  • Penggunaan raw material dan sumber daya alam.
  • Isu lingkungan dan masyarakat

Langkah ke 3

Evaluasi aspek lingkungan yang penting dilakukan dengan cara melakukan metode pembobotan yang harus mempertimbangkan, dan tidak terbatas pada:

  • Peraturan lingkungan.
  • Tingkat kepatuhan.
  • Dampak terhadap manusia.
  • Dampak terhadap property.
  • Keluhan masyarakat.
  • Sebaran dampak.
  • Probability/kemungkinan terjadi.

Langkah ke 4

Jika menemukan aspek yang penting, maka harus membuat daftar aspek lingkungan penting. Kita harus melaporkan daftar aspek lingkungan penting yang mana akan menjadi keputusan penting dalam menentukan objective dan target.

Langkah ke 5

Bersama dengan Management harus memutuskan aspek lingkungan penting mana yang akan dikendalikan oleh petunjuk kerja dan pengendalian operasional lainnya termasuk alokasi ke program lingkungan. Untuk memastikan aspek lingkungan penting dikendalikan oleh petunjuk kerja, kita harus memonitor aspek penting yang telah ada tersebut.

Langkah ke 6

Jika dikendalikan dengan program, kita harus mengumpulkan progress report dan hasil monitoringnya kepada MR secara berkala. Apabila terdapat ketidaksesuaian terhadap sasaran dan program yang sudah ditetapkan maka kita harus mengeluarkan Laporan Ketidaksesuaian termasuk investigasinya. Setiap adanya perubahan proses atau penambahan atau adanya project yang direncanakan sehubungan dengan ruang lingkup perusahaan maka identifikasi haruslah dilakukan atau disesuaikan.

Untuk bisa lebih memahami, tersedia Prosedur dan Form Identifikasi Aspek dan Dampak Lingkungan di Download Informasi Umum No. (2) dan (3)

atau melalui Link Dibawah ini :


Popular Posts