“Barang siapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Ibnu Majah & Abu Dawud)                 Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya. ( Ali bin Abi Thalib )
Showing posts with label Quality. Show all posts
Showing posts with label Quality. Show all posts

Friday, January 24, 2020

Ada Apa Dengan GKM (GUGUS KENDALI MUTU) / QCC (Quality Control Circle)

Halo, kali ini kita akan menguraikan sedikit mengenai GKM (Gugus Kendali Mutu)/QCC. Apa definisi dan tujuan dari GKM//QCC akan coba kita uraikan secara sederhana di kesempatan kali ini.


Secara umum, GKM (Gugus Kendali Mutu)/QCC adalah sejumlah karyawan yang terdiri dari 3-7 orang dengan pekerjaan yang sejenis yang bertemu secara berkala untuk membahas dan memecahkan masalah-masalah pekerjaan dan lingkungannya dengan tujuan meningkatkan mutu usaha dengan menggunakan perangkat kendali mutu (8 langkah & 7 tools).


Nah, dari definisi diatas mendeskripsikan bahwa penerapan GKM (Gugus Kendali Mutu)//QCC itu perlu adanya gugus - gugus/SGA (Small Group Activity)/Group yang akan bekerja untuk memecahkan masalah dengan perangkat kendali mutu.

Penerapan GKM tidak bisa terlepas dari PDCA (Plan - Do - Check - Act), karena itulah pondasi utama jalannya GKM beserta perangkat kendali mutunya (8 langkah & 7 Tools). Kalau belum memahami apa itu PDCA, teman - teman bisa mampir dulu di artikel yang pernah kami buat sebelumnya yaitu Cara Menerapkan PDCA (Plan - Do - Check - Action).

OK, sekarang kembali ke Laptop ya
Kenapa GKM harus kita terapkan dan apa manfaat yang akan kita dapatkan ?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, akan banyak sekali jawaban - jawaban yang akan muncul dan pada dasarnya semua bisa bermacam - macam sesuai dengan motivasi dan kebutuhan organisasi/perusahaan yang akan menerapkan.
Di artikel ini, kami akan uraikan secara mendasar tentang mengapa GKM perlu untuk diterapkan. Kita mulai dari Mutu/Quality terlebih dahulu, Mutu/Quality merupakan sesuatu yang dinamis terus bergerak seiring perubahan dan perkembangan zaman. Hal ini tentunya menuntut pribadi kita, Organisasi/Perusahaan juga harus mengikuti perkembangan zaman. 
Tentunya sudah banyak contoh perusahaan - perusahaan yang akhirnya harus tergeser di area kompetisi bisnisnya karena lambat dalam mengikuti perubahan - perubahan zaman. Contoh sederhananya, pengguna handphone yang merasa bahwa handphone itu dikatakan berkualitas bila bisa digunakan untuk foto, internetan, chatting, dsb. 
Pergerakan Mutu ini yang menuntut Organisasi/Perusahaan harus berupaya untuk melakukan Improvement. Nah, melalui GKM inilah diharapkan improvement - improvement akan terlahir yang tujuan utamanya adalah untuk peningkatan performa Organisasi/Perusahaan.
sehingga manfaat yang didapat dari penerapan GKM akan sangat terasa, diantaranya :

  1. Peningkatan performa Organisasi/Perusahaan
  2. Meningkatkan budaya PDCA dalam melakukan aktifitas pekerjaan
  3. Meningkatkan performa pekerja dalam karena akan terlibat langsung dalam melahirkan improvement - improvement.
  4. Membudayakan penggunaan alat - alat stastitikal dalam pengkajian problem untuk menghasilkan improvement.


OK, sekian dulu tulisan mengenai GKM kali ini.
Tetap stay tune di blog ini, kedepannya akan kita bahas lagi mengenai GKM dengan  materi yang lebih dalam.
Terima kasih 
    

Friday, April 12, 2019

INTEGRASI ISO 9001:2015 DAN STANDAR AKREDITASI PERGURUAN TINGGI

SALAM QHSE
Sebuah keberuntungan pada momen ini bisa diberi kesempatan untuk kembali mengisi konten yang ada di Blog ini, yang mudah - mudahan bisa memberikan manfaat dan keberkahan bagi para pembacanya. Kali ini, penulis ingin menuliskan keterkaitan antara Standar Sistem Manajemen Mutu (ISO 9001:2015 dengan Standar Akreditasi Perguruan Tinggi).

Kenapa harus dikaitkan dengan Standar Akreditasi Perguruan Tinggi ?
Tujuan dari proses akreditasi adalah untuk menilai kesesuaian hasil dari proses pengelolaan yang dilakukan oleh institusi perguruan tinggi terhadap standar yang telah ditetapkan oleh BAN-PT.
Standar Akreditasi Perguruan TInggi merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menjamin mutu pengelolaan pendidikan tinggi. Saat ini institusi yang ditunjuk untuk menyelenggarakan akreditasi bagi institusi pendidikan tinggi adalah Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Standar yang ditetapkan oleh BAN-PT pada instrumentasi akreditasi institusi perguruan tinggi tahun 2011 ada 7 yaitu:
  1. Standar 1. Visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian
  2. Standar 2. Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu
  3. Standar 3. Mahasiswa dan lulusan
  4. Standar 4. Sumber daya manusia
  5. Standar 5. Kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik
  6. Standar 6. Pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi
  7. Standar 7. Penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama


Manfaat integrasi penerapan ISO 9001:2015 dengan Standar Akreditasi Perguruan Tinggi
Penerapan Sistem Manajemen Mutu (ISO 9001:2015) mampu menjadi kerangka acuan sistem penjaminan mutu internal untuk memastikan bahwa proses pengelolaan sesuai dengan visi dan misi dan peningkatan mutu dilakukan secara berkelanjutan.
Institusi perguruan tinggi yang mengintegrasikan ISO 9001:2015 dengan Standar Akreditasi BAN-PT dapat mengarahkan pengelolaan bukan hanya pada pemenuhan standar tetapi juga untuk peningkatan mutu yang berkelanjutan untuk memenuhi tuntutan akan mutu pendidikan yang terus berkembang.

Integrasi ISO 9001:2015 dengan standar akreditasi perguruan tinggi dibuat dalam metode pemetaan persyaratan standar akreditasi institusi perguruan tinggi dan persyaratan standar ISO 9001:2015.







Thursday, June 7, 2018

10 Langkah Membuat Tabel Resiko dan Peluang ISO 9001:2015

Salam Bahagia untuk para pembaca,

Pada kesempatan kali ini,saya sangat bersyukur bisa membagi waktu untuk bisa mengisi konten blog ini yang diharapkan bisa membantu teman - teman semua untuk saling membagi ilmu. Tulisan blog ini sebenarnya merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya  (Resiko dan Peluang pada ISO 9001:2015), hanya saja disini akan lebih dibahas secara teknis mengenai implementasinya di organisasi/perusahaan.

Untuk bisa lebih memahami, saya sarankan untuk membaca terlebih dahulu tulisan sebelumnya dengan judul Resiko dan Peluang pada ISO 9001:2015 dan bisa download standart yang sudah saya sediakan di postingan sebelumnya juga dengan judul Downlad Standart ISO 9001:2015. Untuk menetapkan tindakan resiko dan peluang, ISO memberikan refrensi khusus yang bisa dijadikan standart/panduan dalam implementasinya. ISO 31000 tentang Risk Management adalah rujukan yang dapat dipakai untuk mendukung efektifitas tindakan untuk mengatasi resiko dan peluang organisasi.


Berikut ini 10 Langkah dalam membuat tabel resiko dan peluang ISO 9001:2015.

1. Lokasi/Area
Organisasi perlu menetapkan area/lokasi dimana akan dilakukan identifikasi resiko dan peluang. Hal ini bisa mengacu pada tiap-tiap Divisi/Departemen dalam Instansi/Perusahaan maupun Area Organisasi secara general.
misalnya : Area Purchasing, Warehouse, Sekertariat, Front Office, dll.

2. Kegiatan/Proses
Setelah menetapkan Area/Lokasi, tentukan kegiatan/proses yang memiliki resiko dan peluang yang dapat mempengaruhi proses bisnis organisasi.
misalnya : Proses Pembelian Barang, Proses Penyimpanan Material, Proses Pelayanan Masyarakat, dll.

3. Pihak yang berkepentingan
Mampu mengidentifikasi pihak yang berkepentingan sangat efektif untuk menentukan besar atau kecilnya resiko dari suatu proses atau kegiatan.
misalnya : Petugas diproses selanjutnya (Petugas Gudang), Masyarakat, Konsumen, Stakeholder, Top Manajemen, dll.

4. Harapan dan Kebutuhan Pihak yang berkepentingan
Selain mengidentifikasi pihak-pihak yang berkepentingan, organisasi perlu menetapkan harapan dan kebutuhannya. Hal ini penting diketahui agar organisasi dapat menetapkan pengendalian terhadap resiko/peluang dengan lebih relevan dan tepat sasaran.
misalnya : Customer (Mensyaratkan Manajemen Keamanan Pangan), Top Manajemen (Meningkatnya Omset Perusahaan), dll.

5. Internal atau Eksternal Issue
Issue merupakan sesuatu hal yang tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan masalah bagi organisasi. Keterkaitan issue internal atau eksternal ini sangat mempengaruhi pengendalian resiko dan peluang bagi organisasi. 
misalnya : Issue Internal (Budaya 5R dalam Bekerja, keterbatasan SDM, Pengalaman organisasi dalam pekerjaan terntentu), Issue Eksternal (Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, Suasana lingkungan yang tidak kondusif, Trend digital dalam bisnis meningkat)

6. Resiko atau Peluang
Identifikasi resiko atau peluang yang timbul dari kegiatan/proses yang pengaruhi pihak berkepentingan dan issu internal/eksternal.
misalnya : Ketidaktepatan dalam pembuatan rencana produksi, keterlambatan material, dll.

7. Penilaian Resiko dan Tingkat Resiko
Untuk dapat menilai suatu resiko diperlukan adanya kriteria-kriteria yang harus ditetapkan organisasi. Kriteria meliputi peluang terjadinya dan dampak yang dihasilkan apabila terjadi resiko/peluang tersebut. Hasil Penilaian resiko dengan mempertimbangkan krtieria-kriteria yang ditetapkan akan menetukan tinkat resiko tersebut.

8. Penanggung Jawab
Sebagai bentuk pengendalian, menentukan penanggung jawab terhadap resiko/peluang merupakan hal yang perlu ditetapkan.

9. Sasaran 
Penetapan sasaran ini berguna untuk mengendalikan resiko/peluang di organisasi. Dengan adanya sasaran, organisasi akan lebih terfokus dalam menyediakan sumber daya yang dibutuhkan dalam pengenaliannya.
Untuk lebih efektif, penetapan sasaran ini bisa diberlakukan hanya untuk resiko yang memiliki level Medium atau High Risk dan yang Low Risk hanya perlu monitoring.

10. Status Tindakan
Sebagai bukti monitoring pengenalian resiko, organisasi perlu untuk menetukan status tindakan dari pengendalian yang ditetapkan.

Tabel Resiko dan Peluang dapat didownload di blog ini
Klik Download Informasi (No. 1)

Monday, November 6, 2017

Resiko dan Peluang Pada ISO 9001:2015


Banyak orang yang bertanya kenapa Standart ISO 9001 itu direvisi dan apa saja hal-hal baru yang muncul di revisi terbaru.
Sekedar informasi bahwa ISO 9001 telah direvisi sebanyak 4 kali (Revisi terakhir 2015) mulai dari ISO 9001 pertama kali terbit di tahun 1987.
Gambar 1. Histori Revisi ISO 9001 

Pada setiap tahun revisi titik pasti terdapat perubahan pada titik fokus implementasinya dan hal ini disebabkan karena beberapa faktor, antara lain :
1. Trend terbaru
2. Kompatibilitas dengan Sistem Manajemen yang lain
3. Up-to-date dengan dinamika bisnis dunia

Dari beberapa faktor diatas, kalau akan kita tuliskan dalam artikel ini mungkin akan terlalu lebar, panjang dan luas sehingga akan tidak tepat pada sasaran. Oleh karena itu, materi ini akan dikerucutkan pada faktor Trend terkini.
Trend yang sedang berkembang saat ini adalah permasalahan safety dan hampir di seluruh dunia sangat berfokus pada safety, baik itu pada aktfitas kerja, makanan, informasi dsb.
Pengendalian safety dimulai dengan identifikasi bahaya yang mencakup resiko-resiko yang mungkin akan terjadi sehinggan berdampak buruk. Hal ini menjadi pertimbangan dalam implementasi sistem manajemen mutu, secara logika mungkin sebaiknya kita mampu menghindari trouble sebelum terkena trouble atau sebisa mungkin kita menghindari kerugian sebelum mengalami kerugian. Pertimbangan semacam itu yang kemudian memunculkan suatu gagasan untuk mengatasi resiko dan memperoleh peluang untuk efektifitas sistem manajemen mutu.
Coba kita lihat di ISO 9001:2008, persyaratan yang ada didalamnya terdapat tindakan korektif dan preventif sehingga organisasi akan menunggu terjadinya problem kemudian menyelesaikannya dan menetapkan tindakan pencegahan. Biaya untuk menetapkan tindakan pencegahan juga tidak sedikit apabila ditambah lagi setelah adanya tindakan korektif yang belum lagi problem itu akan melebar dan hal ini sangat tidak relevan terhadap dinamika bisnis. Dengan adanya persyaratan terkait tindakan untuk mengatasi resiko dan peluang, organisasi diharapkan mampu untuk meminimalisir terjadinya ketidaksesuaian baik proses atau produk/jasa yang mengakibatkan kerugian. 

Apa itu Resiko ?
Resiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang.

Apa itu Manajemen Resiko ?
Manajemen Resiko adalah Suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. (Wikipedia).

Standart ISO 9001 versi 2015 telah mensyaratkan setiap organisasi yang mengimplementasikannya untuk menetapkan resiko dan peluang terhadap hal - hal yang berpengaruh pada proses bisnisnya.

Proses Menetapkan Tindakan Untuk Mengatasi Resiko dan Peluang
ISO 9001:2015 secara eksplisit memang tindak menjelaskan secara terperinci mengenai metode ataupun tahap-tahap dalam menetapkan tindakan untuk mengatasi Resiko dan Peluang. Perlu kita ketahui bahwa metode untuk mengatasi resiko dan peluang atau dalam artian Manajemen Resiko sangat banyak dan beragam.
para ahli telah menetapkan beberapa metode yang mampu menidentifikasi resiko hingga menetapkan pengendalian atau mitigasinya secara kuantitatif dan terukur.
Berikut contoh beberapan metode :

  • Metode dasar manajemen risiko (flowcharts, check sheets, dll.)
  • Failure Mode Effects Analysis (FMEA)
  • Failure Mode, Effects and Criticality Analysis (FMECA)
  • Fault Tree Analysis (FTA)
  • Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP)
  • Hazard Operability Analysis (HAZOP)
  • Preliminary Hazard Analysis (PHA)
  • Penyaringan dan pemberian skala (pemeringkatan) risiko
  • Perangkat statistik pendukung

dari contoh metode-metode yang telah dikembangkan para ahli seperti diatas, secara umum rule model yang diterapkan untuk mengidentifikasi resiko adalah sebagai berikut :

Gambar 2. Model Identifikasi Resiko (ISO 31000:2009)

Langkah - langkah  resiko
1. Menetapkan Konteks Organisasi
Dengan menetapkan konteksnya, organisasi mampu menidentifikasi tujuannya dengan mendefinisikan issue inetrnal dan issue eksternal di organisasi. Saat menetapkan konteks untuk proses manajemen risiko, organisasi perlu mempertimbangkan secara lebih rinci dan terutama bagaimana kaitannya dengan lingkup risiko pada proses manajemen.

2. Penilaian Resiko
Resiko dapat dikendalikan secara efektif apabila terdapat Penilaian Resiko. Mengacu pada gambar 2 penilaian risiko terdiri dari 
  • Identifikasi Resiko 
  • Analisis Resiko 
  • Evaluasi risiko 

3. Pengendalian Resiko
Setelah dilakukan Penilaian Resiko, kita akan mengetahui seberapa besar peluang terjadinya, seberapa besar dampaknya dan pada ujungnya adalah bagaimana pengendaliannya. Pengendalian risiko meliputi pengambilan suatu keputusan dimana kita harus menetukan untuk mengurangi dan/ atau menerima risiko. Target dari pengendalian risiko adalah untuk meminimalisir risiko tersebut sampai batas yang dapat diterima. Dalam pengambilan keputusan, terdapat hal - hal yang dapat mempengaruhi keputusan yang diambil.Sangat dimungkinkan menggunakan proses yang berbeda, termasuk analisis keuntungan-biaya, untuk memahami tingkat yang optimal terhadap pengendalian risiko.

4. Evaluasi Resiko
Evaluasi resiko diperlukan untuk mengetahui relevansi resiko-resiko yang telah ditetapkan. Pada saat proses Manajemen Risiko telah dimulai, proses tersebut hendaklah dilanjutkan untuk digunakan dalam kejadian yang mungkin memberi dampak pada keputusan Manajemen Risiko Mutu awal, baik kejadian tersebut direncanakan (misal, hasil pengkajian produk, inspeksi, audit, pengendalian perubahan) maupun yang tidak direncanakan (misal, akar penyebab masalah dari investigasi penyimpangan, penarikan kembali produk jadi).
Frekuensi evaluasi hendaklah didasarkan pada tingkat risiko.
Evaluasi risiko dapat termasuk mempertimbangkan kembali keputusan penerimaan risiko.





Friday, October 13, 2017

Menerapkan Pendekatan Proses (Process Approach) dalam ISO 9001:2015

Beberapa hari yang lalu, saya pernah ditanya mengenai bagaimana kriteria suatu organisasi yang sudah menerapkan pendekatan proses (Process Approach) sesuai dengan ISO 9001;2015. Pertanyaan ini sangat menarik untuk didiskusikan, karena literatur yang disediakan oleh ISO pun tidak secara gamblang menjelaskan mengenai pendekatan proses. Pendekatan proses juga termasuk dalam 7 Prinsip Manajemen Mutu, dimana prinsip - prinsip tersebut adalah dasar penerapan standar sistem manajemen mutu.
Pada kesempatan ini, saya mencoba mendeskripsikan mengenai apa itu Pendekatan Proses (Process Approach) dan kriteria organisasi yang menerapkannya.
Sebelum lebih jauh membahas mengendai pendekatan proses, sebaiknya harus memahami dulu pengertian apa itu proses.
PROSES
Menurut ISO 9001:2015 (Quality Management System - Fundamental and Vocabulary) adalah serangkaian kegiatan yang saling terkait atau berinteraksi yang menggunakan masukan (input) untuk menghasilkan suatu hasil (output) yang dimaksudkan.


Konsep pendekatan proses secara sistematis memungkinkan organisasi untuk :
  1. Memahami keterkaitan dan interaksi kegiatan-kegiatan didalamnya sebagai suatu proses, 
  2. Memahami input (masukan) dalam suatu proses beserta persyaratan-persyaratan dan karakteristiknya
  3. Memahami sumber daya yang dibutuhkan agar proses bisa berjalan dengan efektif dan efisien.
  4. Memahami output (keluaran) dari suatu proses beserta persyaratan dan kualifikasi yang diharapkan.  

Misalnya :
Perusahaan Manufaktur yang memproduksi minyak goreng ingin menerapkan Standart Sistem Manajemen Mutu (ISO 9001:2015). Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah memahami 7 Prinsip Manajemen Mutu dan Menerapkannya. Salah satunya dengan menerapkan pendekatan proses dalam organisasinya.

Berikut akan coba saya jabarkan secara sederhana :
Organisasi perlu untuk menetapkan elemen - elemen dalam konsep pendekatan proses

Input ; Order Pelanggan
Sebagai inputan dalam suatu proses, organisasi harus memahami persyaratan-persyaratan yang ada pada order pelanggan (input) misalnya, spesifikasinya, kuantitasnya, kualitasnya, tanggal kirimnya, perlengkapan administrasinya, bahkan ada yang diminta sertifikasi produk, dsb.

Proses : Marketing, PPIC, Produksi (Pemurnian dan Fraksinasi), Gudang dsb.
organisasi harus mengidentifikasi proses yang terkait yang ada didalamnya untuk menerima input dan menghasilkan ouput. Identifikasi proses didalam oganisasi meliputi :
  • Urutan dan interaksi proses - proses tersebut
  • Menentukan dan menerapkan kriteria dan metode (Pemantauan, Pengukuran dan indikator kinerja) yang diperlukan untuk memastikan operasi dan pengendalian berjalan efektif
  • Menentukan sumber daya yang dibutuhakan
  • Menentukan tanggung jawab dan wewenang pada tiap proses
  • Mengatasi resiko dan peluang yang timbul pada proses
  • Mengevasluasi dan menerapkan perubahan yang dibutuhkan
  • Meningkatkan proses dan sistem manajemen mutu
Core Process : Customer Order  → Marketing → PPIC → Produksi → Gudang Barang Jadi → Customer
Support Process : HRD, Purchasing, Gudang Bahan Baku, Maintenance, IT

Output : Produk Minyak Goreng
sebagai hasil dari suatu proses, output diharapkan sesuai dengan kriteria/persyaratan yang telah ditetapkan. Output merupakan objek yang akan diterima dan dinilai oleh pelanggan.

Dari gambaran diatas, diharapkan organisasi mampu mengidentifikasi apa yang menjadi input, bagaimana proses - prosesnya meliputi, metode, kriteria, pengendalian, sumber daya yang dibutuhkan, siapa yang bertanggung jawab pada tiap prosesnya dan output yang dihasilkan dari proses.
Sehingga implementasi sistem manajemen mutu bisa berjalan secara sistematis dan dapat diverifikasi dengan jelas.


Monday, October 2, 2017

Penerapan 7 Prinsip Manajemen Mutu

Dalam penerapan sistem manajemen mutu (ISO 9001:2015), organisasi harus memahami 7 prinsip sistem manajemen mutu. 7 prinsip sistem manajemen mutu merupakan dasar dari standart sistem manajemen mutu. Sama halnya dengan negara Indonesia yang memiliki Undang-Undang Republik Indonesia yang mengacu pada nilai-nilai dasar Pancasila, 7 Prinsip Sistem Manajemen Mutu juga sebagai nilai dasar dari persyaratan-persyaratan yang ada didalam standart sistem manajemen mutu.

Berikut dijelaskan 7 Prinsip Manajemen Mutu, sebagai berikut :

1. Customer Focus (Fokus Pelanggan)
Tujuan utama dari penerapan sistem manajemen mutu ialah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan berusaha untuk melebihi harapan pelanggan.
Kepercayaan pelanggan dan pihak - pihak yang berkepentingan merupakan hal harus dipelihara apabila suatu organisasi ingin sukses yang berkelanjutan.
Tindakan yang dapat dilakukan :
  • Mengenali pelanggan secara langsung dan tidak langsung
  • Memahami kebutuhan dan harapan saat ini dan yang akan datang
  • Mengkomunikasikan kebutuhan dan harapan pelanggan keseluruh organisasi
  • Mengukur dan memantau kepuasan pelanggan dan mengambil tindakan yang sesuai
  • Memelihara secara aktif hubungan dengan pelanggan 

2. Leadership (Kepemimpinan)
Leadership disini adalah pimpinan di seluruh tingkat yang menetapkan kesatuan tujuan dan arah serta menciptakan kondisi dimana orang dilibatkan dalam mencapai tujuan mutu organisasi.
Kesatuan tujuan mampu membuat organisasi bisa melaksanakan strategi dalam mencapai targetnya secara efektif dan efisien.
Tindakan yang dapat dilakukan :
  • Mengkomunikasikan visi, misi, strategi, kebijakan dan proses organisasi ke seluruh organisasi
  • Menggalakkan komitmen mutu ke seuruh organisasi
  • Melengkapi orang-orang didalam organisasi dengan sumber daya yang dipersyaratkan, pelatihan dan otoritas untuk bertindak secara bertanggung jawab

3. Engagement of People (Perikatan Orang)
Untuk dapat mengelola dan membuat organisasi mampu untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan, keterlibatan orang diseluruh tingkatan organisasi menjadi hal yang sangatlah penting.
Engagement disini memiliki arti yang lebih dari sekedar keterlibatan, namun organisasi perlu untuk adanya pengakuan, upaya  untuk pemberdayaan, kompetensi orang di semua tingkatan.
Tindakan yang dapat dilakukan :
  • Mengkomunikasikan ke orang - orang untuk mendorong pemahaman pentingnya kontribusi individual mereka
  • Memberdayakan orang untuk menentukan hambatan kinerja serta mengambil inisiatif 
  • Mengenali dan mengakui akan kontribusi, pembelajaran, dan peningkatan orang.

4. Process Approach (Pendekatan Proses)
Pendekatan proses merupakan suatu konsep yang memungkinkan suatu organisasi mampu mencapai sasaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Proses merupakan suatu usaha dimana terjadi perubahan inputan (Masukan/Feed) menjadi output (Hasil/Keluaran). Pemahaman bagaimana hasil itu dihasilkan oleh suatu sistem memungkinkan organisasi untuk dapat mengoptimalkan sistem dan kinerjanya.
Tindakan yang dapat dilakukan :
  • Menetapkan sasaran/target dari sistem dan proses yang diperlukan
  • Menetapkan kewenangan, tanggung jawab dan akuntabilitas dalam mengelola proses
  • Menetapkan proses yang saling terkait dan menganalisa dampak modifikasi untuk proses secara individual dan pada sistem secara keseluruhan
  • Mengelola resiko yang dapat mempengaruhi keluaran proses

5. Improvement (Peningkatan)
Peningkatan merupakan hal yang penting bagi organisasi untuk memelihara level kinerja saat ini dan untuk merespon terhadap perubahan kondisi internal maupun eksternal dan mencipatakan peluang baru.
Tindakan yang dapat dilakukan :
  • Mensosialisasikan penetapan peningkatan sasaran/target diseluruh tingkat organisasi
  • Menelusuri, meninjau serta mengaudit perencanaan, penerapan, penyelesaian dan hasil proyek peningkatan
  • Mengintegrasikan pertimbangan untuk peningkatan ke dalam pengembangan baru atau mondifikasi produk dan jasa, serta proses.

6. Evidence Based Decision Making (Pengambilan Keputusan dengan Dasar Bukti)
Keputusan yang dihasilkan dari mempertimbangkan hasil analisa dan evaluasi data serta informasi lebih memungkinkan organisasi untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Tindakan yang dapat dilakukan :
  • Menentukan, mengukur dan meninjau indikator kunci guna menunjukkan kinerja organisasi
  • Membuat semua data yang dibutuhkan tersedia bagi orang yang relevan
  • Memastikan akurasi data dan informasi yang mencukupi, aman dan dipercaya
  • Menganalisa dan mengevaluasi data serta informasi menggunakan metode yang tepat
  • Membuat keputusan dan engambil tindakan berdasarkan bukti

7. Relationship Management (Manajemen Relasi)
Kesuksesan organisasi dapat dicapai apabila organisasi mampu untuk mengelola hubungannya dengan pihak - pihak yang berkepentingan yang relevan.
Pihak berkepentingan yang relevan misalnya penyedia/supplier memiliki pengaruh terhadap kinerja organisasi. Dalam rangka mengoptimalkan dampak mereka dalam mempangaruhi kinerja organisasi, manajemen relasi dengan penyedia maupun jaringan mitra kerja lainnya sangatlah penting.
Tindakan yang dapat dilakukan :
  • Mengelola dengan baik pihak yang berkepentingan (misalnya, supplier, investor, pekerja, mitra pelanggan, masyarakat) dan relasi mereka dengan organisasi
  • Mengukur kinerja dan memberikan umpan balik kinerja ke pihak berkepentingan yang relevan
  • Menetapkan kegiatan kerjasama pengembangan dan peningkatan bersama supplier, mitra dan pihak berkepentingan lainnya
  • Menentukan dan membuat prioritas relasi dengan pihak berkepentingan yang perlu untuk dikelola
7 Prinsip Manajemen Mutu akan lebih mudah diingat dengan disingkat (C - L - E - P - I - E - R)
CLEPIER (CUSTOMER FOCUS - LEADERSHIP - ENGAGEMENT OF PEOPLE - PROCESS APPROACH - IMPROVEMENT - EVIDENCE BASED DECISION MAKING - RELATIONSHIP MANAGEMENT)

Salam Sukses
Terima kasih






Saturday, September 30, 2017

Cara Menerapkan PDCA (Plan - Do - Check - Action)

PDCA (PLAN - DO - CHECK - ACTION)

Istilah yang akan kita bahas kali ini tentu sudah tidak asing lagi, apalagi bagi yang pernah ikut pelatihan sistem manajemen mutu.  Siklus PDCA merupakan konsep yang menjelaskan suatu proses pemecahan masalah dengan empat langkah iteratif yang umum digunakan dalam pengendalian kualitas untuk mencapai peningkatan secara terus - menerus.

Siklus PDCA pertama kali dipopulerkan oleh W. Edwards Deming, sehingga sampai saat ini sering juga disebut dengan istilah siklus Deming. Menurut ISO 9001:2015, Siklus PDCA memungkinkan sebuah organisasi untuk memastikan bahwa prosesnya memiliki sumber daya dan pengelolaan yang memadai, dan peluang untuk perbaikan ditentukan dan ditindaklanjuti.

Berikut ini penjelasan mengenai PDCA Cycle (Plan - Do - Check - Action) :

Plan
Menetapkan tujuan/sasaran dari sistem dan prosesnya, beserta sumber daya yang dibutuhkan untuk memberikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan kebijakan organisasi, dan mengidentifikasi dan menangani risiko dan peluang.

Do
Menerapkan apa yang telah ditetapkan dalam perencanaan

Check
memantau dan (jika memungkinkan) mengukur proses dan produk/jasa yang dihasilkan terhadap kebijakan, sasaran, persyaratan dan kegiatan yang direncanakan, dan melaporkan hasilnya.

Action
Mengambil tindakan untuk meningkatkan kinerja, sejauh yang dibutuhkan.



Untuk lebih memudahkan penerapan konsep siklus PDCA pada organisasi gambar diatas dapat menjelaskan bahwa siklus ini terus berputar bergerak secara simultan untuk memproses persaratan dari pelanggan sebagai input hingga muncul hasil (Output).

Di Negara Maju seperti Jepang, Amerika, Jerman dll, siklus PDCA ini sudah lama diterapkan. Efektifitas dari penerapan metode ini terletak pada komitmen dalam pelaksanaannya.
Secara penerapan, konsep ini bekerja terus berputar mulai dari pembuatan rencana hingga tindak lanjut dari evaluasi pelaksanaan dan menjadi dasar pembuatan perencanaan kembali. Plan (Perencanaan) merupakan kunci dasar siklus ini bisa berjalan baik. 

Contoh :

  1. Apabila libur panjang kita hendak pergi ke beberapa tempat dengan jangka waktu 1 minggu, sebelum berangkat pasti kita akan merencanakan urut-urutan tempat yang akan dikunjungi. Lokasi mana yang akan pertama kali dikunjungi, kemudian selanjutnya dimana dan seterusnya. Karena apabila tidak, maka akan banyak terjadi pemborosan waktu, tenaga, dan bensin akibat jalannya yang bolak-balik tidak karuan. 
  2. Apabila ada perusahaan kemasan pelastik (Packaging) yang telah menerima order sebanyak 3000 pcs botol plastik 500 mL. Perusahaan akan merencanakan kebutuhan bahan baku (Supplier, kuantitinya, spesifikasinya, pengiriman, harga, dll) , ketersediaan mesin (moulding, kapasitas mesin, kelayakan mesin, dll), ketersediaan SDM, dll. Apabila perencanaan sudah siap,  selanjutnya tinggal pelaksanaan sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan dalam perencanaan. 
Konsep PDCA mampu diterapkan baik disegala bidang dan level, antara lain bidang Manufaktur, Jasa, Pemerintahan Dll baik dari segi level organisasi maupun level individu. 
















Featured Post

ADA AKSES GRATIS SNI DI MASA PANDEMI COVID-19

Popular Posts